Kesehatan

Estimasi Biaya Persalinan di Semarang

Alhamdulilah, nggak terasa usia kehamilan sudah memasuki 7 bulan. Selama 7 bulan ini berat saya hanya naik 6 kg saja semenjak 3 bulan terakhir. Jadi tiap bulan rata-rata naik 2 kg saja, maka itu artinya sampai nanti waktunya melahirkan totalnya hanya 12 kg saja hihihi…Insyallah sih berat tersebut masih aman untuk janin, karena dokter saya juga nggak komentar apa-apa dan setahu saya memang kenaikan berat normal antara 10-15 kg.

Nah, ngomongin masalah persalinan yang sekitar 2 bulanan lagi. Saya sudah mulai memikirkan segala tetek bengeknya. Mulai dari nama calon anak jika laki-laki maupun perempuan, perlengkapan calon ibu dan bayi hingga yang utama adalah biaya melahirkan.Sebenarnya sih sudah mulai di pikir dan sudah pula di list dari kemarin-kemarin, tapi masih nyantai. Kalau masalah nama sudah ada beberapa pilihan. Masalah perlengkapan ibu dan bayi juga sudah mulai terkumpul. Alhamdulilah nggak terlalu banyak yang harus dibeli, karena dapat hibah dari kakak ipar. Lumayan berhemat banget gitu, hehehe…Nah, yang paling penting adalah masalah biaya persalinan. Untuk yang satu ini tergantung tempat dimana saya melahirkan nanti dan itu masih dalam proses. Penginnya di bidan saja yang lebih murah dan semoga nanti semuanya lancar sehingga saya bisa melahirkan dengan normal.

Ngomongin soal biaya untuk lahiran, tentunya yang jadi perhatian utama adalah masalah biaya. Kalau punya banyak duit mah nggak masalah mau lahiran dimana, bebas memilih RS yang dimau dan yang memiliki fasilitas terbaik. Tapi bagi saya, biaya/tarif tiap RS yang berbeda-beda menjadi pertimbangan tersendiri. Jadi, untuk itu saya pun mencari tahu tarif beberapa RS yang berpotensi menjadi tujuan tempat bersalin saya nanti. Berikut ini adalah hasil survey saya untuk estimasi biaya melahirkan di beberapa RS di Semarang Continue reading “Estimasi Biaya Persalinan di Semarang”

Kesehatan

I am PCOS Fighter

tumblr_ng2xezbaSS1tlh6oko1_500Perempuan mana sih yang nggak mau hamil? Dijamin hampir semua perempuan ingin bisa hamil dan memiliki anak ketika mereka sudah menikah. Termasuk juga saya. Yup, satu tahun lebih menikah, kami belum dikaruniai buah hati. Bukan karena kami ingin menunda, namun karena saya ternyata suspect PCOS (Polycystic Ovary Syndrom). Itu baru saya ketahui tahun lalu, beberapa bulan setelah kami menikah. Saya yang memang sudah curiga dengan mens saya yang tidak teratur, akhirnya memberanikan diri periksa ke dokter. Sampai akhirnya saya dinyatakan suspect PCOS.

Apa itu PCOS? silahkan bisa di gooling sendiri, atau baca salah satu infonya di sini. Pada intinya bisa dikatakan, PCOS menjadi salah satu penyebab infertilitas/sulit hamil. Umumnya penderita PCOS memiliki sel telur yang banyak namun kecil-kecil dan tidak memenuhi ukuran minimal untuk dibuahi. Penyebabnya apa? Sepertinya belum diketahui penyebab pastinya, namun terdapat banyak faktor risiko yang menyebabkan seseorang menderita PCOS. Mulai dari hormon Continue reading “I am PCOS Fighter”

Celoteh

Desperate Daughter, Am I?

“Apa kabarnya? Gimana sudah dapat kerjaan belum? Jangan lupa solat, kalau bisa tiap malam bangun tahajud. Sempetin juga baca Qur’annya meski cuma beberapa ayat”. 

Begitulah kira-kira isi pesan dari Bapak sebelum akhirnya beliau (kembali) menelpon saya. Bukan sekali dua kali saya mendapatkan pesan seperti itu dari Bapak, namun sudah berkali-kali, tak terhitung banyaknya sejak saya wisuda sekitar 5 bulan lalu. Selain bertanya kabar, pertanyaan (wajib) selanjutnya adalah tentang kehidupan karir anaknya ini. Kalau sudah begitu, saya seringkali lebih banyak hanya meminta do’a restu dari beliau. Mohon di do’akan agar anak tertuanya ini segera mendapatkan pekerjaan yang terbaik. Ah…padahal tanpa diminta pun, kau  selalu menyebut anakmu dalam setiap do’a-do’amu. Acap kali setiap mendengar suara Bapak  diujung telepon, saya hanya bisa bergumam sedih dalam hati,

Maafkan anakmu ini Pak, belum bisa membahagiakanmu. 

Maafkan anakmu ini Pak, karena seharusnya sekarang sudah bisa menggantikan posisimu menjadi tulang punggung keluarga.

Maafkan anakmu ini Pak, belum bisa menjadi anak yang berbakti.

Jangan tanya sama saya, sudah berapa banyak lamaran pekerjaan yang saya kirimkan. Apakah saya yang terlalu pilih-pilih pekerjaan? Ya…saya memang pilih-pilih pekerjaan, namun masih dalam batas wajar. Pantangan terbesar saya cuma ada dua saja kok. Pertama, saya nggak mau pekerjaan bidang sales/marketing karena saya ini nggak pandai jualan. Continue reading “Desperate Daughter, Am I?”

Celoteh

Galau Tengah Malam

     Membaca tulisan seorang kawan di lapak sebelah membuatku teringat ke suatu suasana di dalam sebuah rumah di sebuah kota bernama Purwokerto.  Aku kangen dengan para penghuni di dalam rumah itu, bapak, ibu dan adekku satu-satunya. Kira-kira kalian sedang apa ya sekarang? Berandai-andai diriku ada didalam rumah itu. Rumah yang kecil, sederhana dan apa adanya, namun sangat berarti untukku.

      Tapi kini, kenyataannya ragaku tidaklah disana tapi berada di kota ini. Kota yang lima tahun terakhir sudah menjadi kota keduaku. Kota yang kala siang sangat susah untuk berdamai dengan cuacanya yang panas. Kota yang perlahan-lahan juga sudah menggerogoti hatiku.  Dan kini, mau tak mau , suka tidak suka, rela tidak rela, harus aku akui kalau kota yang agak sering kena banjir kalau ujan deras ini telah merebut sebagian hatiku dan membawanya bersamanya. Continue reading “Galau Tengah Malam”