Celoteh

Pengalaman Keguguran Pertama

Bulan Agustus kemarin, saya sempat surprise karena alhamdulilah dapat garis 2 di test pack. Antara bahagia, terkejut, bingung semuanya campur aduk. Bahagia karena ternyata dikasih amanah adiknya Kenzie lebih cepat. Terkejut karena nggak nyangka bisa hamil tanpa program ke dokter, karena saya ini seorang PCOs fighter. Dan bingung juga gimana nyapih Kenzie yang masih menyusui. Beberapa hari kemudian saya pun ke dokter di RS dekat rumah untuk sekadar memastikan kebenaran kehamilan saya. Selain itu tentunya juga pengin tahu kondisi kandungan saya.

Pertama kali cek kehamilan ke dokter Vannya di RS Permata Medika. Saat USG, menurut dokter katanya memang ada kantong rahim, tapi bakal janinnya belum terlihat. Diperkirakan umur kandungan sesuai ukuran kantong rahim yang berdiameter sekitar 3 cm yaitu 7 minggu 3 hari. Selanjutnya disuruh balik lagi seminggu atau dua minggu kemudian untuk melihat perkembangan janin. Tapi pas kontrol selanjutnya saya nggak balik lagi sih karena saya memilih periksa ke dokter Putri di RS Bunda, yang nanganin saya pas hamil Kenzie. Pertimbangannya karena beliau ini yang tahu sejarah kesehatan saya, mulai dari PCOs, promil hingga lahiran Kenzie. Sekitar 10 hari kemudian saya pun ke dokter Putri. Sebenarnya saat itu belum rencana periksa, tapi berhubung saya mengalami flek selama 3 hari, akhirnya saya memutuskan periksa saat itu. Saat di USG, ternyata hasilnya masih sama dengan cek USG pertama. Ukuran kantong rahim masih sama dan bakal janin belum terlihat. Padahal seharusnya sedari usia 6 minggu bakal janin sudah bisa terlihat. Hmm…selesai periksa hari itu saya sudah mulai cemas. Ngebayangin setiap kontrol hamil ada perkembangan bagus dalam kandungan kita, itu adalah momen spesial sih menurut saya. Bagi yang sudah pernah hamil seperti mba Marita dan mba Dini, pasti tahulah rasanya kalau kehamilan kita dinyatakan baik-baik saja. Akhirnya saya pun disuruh kembali lagi seminggu kemudian sambil melihat perkembangan selanjutnya.

Minggu berikutnya, saat di USG kembali dan ternyata hasilnya masih sama, saya juga masih flek. Dokter pun menyatakan bahwa kandungan saya tidak berkembang. Itu artinya saya kemungkinan besar harus kuret. Saat itu dokter Putri masih memberi kesempatan untuk melihat perkembangan kandungan seminggu lagi. Jika nantinya tidak ada kemajuan maka mau nggak mau harus segera dikuret. Kalau dibiarkan terlalu lama, nanti bisa jadi hamil anggur. Meskipun sebenarnya katanya tubuh kita secara alami akan berusaha mengeluarkanya dengan sendiri. Sempat ditawari penguat kandungan, namun saya memilih alami saja. Apalagi beliau juga bilang kalau terlalu sering diberi penguat kandungan, nanti saat kuret malah akan menyulitkan pembukaan jalan lahir. Saya juga diberi surat pengantar masuk RS saat mau kuret. Jadi kalau mau kuret sebelum seminggu saya tinggal langsung ke RS saja.

Sepulang dari RS, karena sudah pasti harus di kuret, saya pun akhirnya mulai hunting biaya kuret. Penginnya sih bisa kuret di dokter Putri saja, tapi sayangnya kalau ke dokter Putri nggak bisa pakai BPJS. Soalnya beliau cuma praktek di RS Bunda dan di paviliun Garuda RS Karyadi. Dulu pernah praktek di RS Hermina Banyumanik, tapi terakhir lihat jadwal praktek di RS saya nggak menemukan namanya. Kemungkinan besar dokter Putri sudah nggak praktek di sana lagi. Ya maklum saja sih, karena jarak yang jauh dan juga kesibukan dokter Putri yang juga mengajar di FK Undip.

Oh ya, saya hunting biaya kuret hanya di 3 RS yaitu RS Bunda, Roemani dan Hermina Pandanaran. Di RS Bunda biaya kuret komplit sekitar 7,5 juta. Di Roemani untuk tindakannya saja sekitar 4,5 juta. Di RS Hermina Pandanaran tidak bisa dipastikan, karena tergantung diagnosis dari dokter. Beuuhh….mahal juga ya ternyata biayanya. Hampir sama bahkan lebih mahal dibandingkan biaya lahiran normal. Mungkin karena kuret termasuk operasi besar dan dibius total jadinya biayanya cukup mahal. Akhirnya dengan berbagai pertimbangan, saya pun memilih ke RS Hermina Pandanaran. Pertimbangannya karena di RS Hermina khusus untuk ibu dan anak. Dibandingkan dengan Roemani yang RS umum, setidaknya meminimalisir Kenzie terkontaminasi dengan lebih banyak penyakit.

Karena saya pakai BPJS, saya pun berencana segera mengurus rujukan dari faskes 1. Supaya kalau ada apa-apa bisa langsung segera ke RS. Nah ternyata, saat besoknya saya mau mengurus surat rujukan, malam sebelumnya saya keluar darah banyak banget dan keluar gumpalan. Waktu itu tengah malam sekitar jam 12-an, perut rasanya mules kayak orang mau kebelet dan nyeri seperti lagi haid. Tapi menurut saya sih masih biasa saja, nggak yang sakit banget atau gimana gitu. Akhirnya saya pun ke kamar mandi dan habis itu keluarlah darah banyak dan gumpalan. Di kamar mandi mungkin sekitar 1 jam lebih, sempat balik ke kamar dan nyusuin Kenzie, lalu akhirnya balik ke kamar mandi lagi. Akhirnya jam 2-an baru bisa tenang dan tidur kembali. Sebenarnya sih sama dokter Putri kalau keluar gumpalan disuruh langsung ke UGD. Tapi kok saya malas kalau tengah malam harus pergi ke RS. Selain itu juga saya merasa baik-baik saja, nggak ada yang perlu dicemaskan. Jadi ya sudah deh, baru pagi harinya saya ke klinik untuk minta surat rujukan.

Saat ketemu sama dokternya, saya sempat dimarahi dan dibilang sembrono saat cerita kalau saya keluar gumpalan dan darah banyak. Ya sih, seharusnya kalau kandungannya normal dan keluar darah banyak memang bahaya dan harus segera ke RS masuk IGD. Tapi berhubung saya ini termasuk BO alias hamil kosong, ya saya anggap pengecualian. Jangan ditiru loh ya kalau ada yang hamil dan kejadian kayak saya. Lalu suami pun langsung bilang kalau saya hamil tapi janinnya nggak berkembang. Singkat cerita, saya pun akhirnya di rujuk ke poli di RS Hermina. Hari itu juga setelah mendapat surat rujukan saya ke RS Hermina, tapi sayangnya dokter yang saya tuju yaitu dokter Widi sudah pulang. Alhasil, saya pun disuruh balik besoknya, sekalian saya didaftarkan nomor antrian.

Keesokan harinya, saya pun kembali ke RS. Oleh dokter setelah dicek lewat USG, ternyata masih ada sisa placenta jadi memang harus dikuret. Sebenarnya mau periksa dalam juga, tapi berhubung Kenzie sudah nangis heboh akhirnya nggak dilakukan. Oleh dokter, saya pun dijadwalkan kuret hari besoknya yaitu Minggu. Rencananya saya masuk RS pagi jam 8-9an, tindakan sore jam 5 dan malamnya saya bisa langsung pulang. Saya sungguh beryukur banget, karena itu artinya saya nggak harus nginep di RS dan bisa ketemu Kenzie lebih lama. Karena dari awal yang saya bingung adalah siapa yang jagain Kenzie. Apalagi Kenzie masih nenen dan nggak bisa tidur kalau nggak nenen. Nggak mungkin juga nitipin sama mertua lama-lama karena mertua bakalan kerepotan kalau Kenzie rewel. Mertua juga nggak bisa nggendong Kenzie lama-lama karena sakit punya sakit punggung. Kalau Kenzie bisa ikut ke RS, saya pisahnya sama Kenzie saat operasi saja.

Nah, itu tadi cerita tentang pengalaman keguguran yang pertama bagi saya. Saat tahu kehamilan saya yang kedua ini nggak bisa dipertahankan, perasaan saya kembali campur aduk. Sempat sedih juga, tapi saya ambil hikmahnya saja. Mungkin belum rezekinya dan saya disuruh sama Allah fokus ngurus Kenzie dulu. Nggak kebayang juga sih kalau saya ngurus bayi sama Kenzie. Lha wong ngurus Kenzie saja saya sudah ngos-ngosan hehehe… Saya cuma bisa berdo’a, semoga ini adalah yang terbaik. Biar bagaimanapun Allah lebih tahu apa yang kita butuhkan bukan?

Celoteh

Review RS Bunda Semarang

Pengalaman melahirkan merupakan sesuatu yang mendebarkan terutama untuk yang pertama kalinya. Persiapan menyambut si kecil membuat orang tua khususnya si ibu menjadi excited. Salah satunya adalah memilih tempat persalinan. Apakah memilih melahirkan dengan bantuan dokter atau bidan? Apakah memilih di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA), Rumah Sakit Umum atau Rumah Bersalin? Saya yakin, tidak sedikit yang mengalami kegalauan memilih tempat persalinannya, termasuk saya hehehe….

Nah, setelah sebelumnya jauh-jauh hari saya survei tentang RS berikut biaya persalinannya, menjelang HPL saya masih saja galau. Baru di minggu terakhir akhirnya saya bisa memutuskan mau melahirkan dimana. Seperti sudah saya ceritakan di postingan sebelumnya, saya akhirnya memilih melahirkan di RS Bunda mengambil kamar kelas 3 yang paling murah.

Berhubungan kehamilan pertama saya ini normal dan tidak ada indikasi yang mengharuskan saya untuk operasi, saya sempat berniat melahirkan di dokter lain atau bahkan di bidan saja, yang murah bahkan gratis jika menggunakan BPJS. Namun atas beberapa pertimbangan saya akhirnya memilih melahirkan di dokter saya biasa kontrol. Continue reading “Review RS Bunda Semarang”

Kesehatan

Estimasi Biaya Persalinan di Semarang

Alhamdulilah, nggak terasa usia kehamilan sudah memasuki 7 bulan. Selama 7 bulan ini berat saya hanya naik 6 kg saja semenjak 3 bulan terakhir. Jadi tiap bulan rata-rata naik 2 kg saja, maka itu artinya sampai nanti waktunya melahirkan totalnya hanya 12 kg saja hihihi…Insyallah sih berat tersebut masih aman untuk janin, karena dokter saya juga nggak komentar apa-apa dan setahu saya memang kenaikan berat normal antara 10-15 kg.

Nah, ngomongin masalah persalinan yang sekitar 2 bulanan lagi. Saya sudah mulai memikirkan segala tetek bengeknya. Mulai dari nama calon anak jika laki-laki maupun perempuan, perlengkapan calon ibu dan bayi hingga yang utama adalah biaya melahirkan.Sebenarnya sih sudah mulai di pikir dan sudah pula di list dari kemarin-kemarin, tapi masih nyantai. Kalau masalah nama sudah ada beberapa pilihan. Masalah perlengkapan ibu dan bayi juga sudah mulai terkumpul. Alhamdulilah nggak terlalu banyak yang harus dibeli, karena dapat hibah dari kakak ipar. Lumayan berhemat banget gitu, hehehe…Nah, yang paling penting adalah masalah biaya persalinan. Untuk yang satu ini tergantung tempat dimana saya melahirkan nanti dan itu masih dalam proses. Penginnya di bidan saja yang lebih murah dan semoga nanti semuanya lancar sehingga saya bisa melahirkan dengan normal.

Ngomongin soal biaya untuk lahiran, tentunya yang jadi perhatian utama adalah masalah biaya. Kalau punya banyak duit mah nggak masalah mau lahiran dimana, bebas memilih RS yang dimau dan yang memiliki fasilitas terbaik. Tapi bagi saya, biaya/tarif tiap RS yang berbeda-beda menjadi pertimbangan tersendiri. Jadi, untuk itu saya pun mencari tahu tarif beberapa RS yang berpotensi menjadi tujuan tempat bersalin saya nanti. Berikut ini adalah hasil survey saya untuk estimasi biaya melahirkan di beberapa RS di Semarang Continue reading “Estimasi Biaya Persalinan di Semarang”

Kesehatan

Tips Atasi Mual Muntah Saat Hamil

Alhamdulilah, akhirnya perjuangan untuk hamil berbuah juga. Maklum sebelumnya saya suspect PCOS, namun akhirnya saya bisa juga mendapatkan 2 garis merah pada test pack. Senengnya bukan main. Dan pada trisemester pertama, seperti halnya bumil pada umumnya, saya juga terserang sindrom mual muntah juga. Badan juga rasanya lemas, nggak nafsu makan. Alhasil, 2 bulanan terakhir saya tidak meng-update blog. Selain itu saat bulan Ramadan kemarin saya juga puasa full dan punya kegiatan khusus di rumah, yaitu bikin kue hehehehe…Jadi bayangin aja, saat hamil, dari pagi sampai siang bikin kue, sorenya masak dan malamnya tarawih. Aiih….untuk menyentuh laptop, apalagi memeras otak untuk menulis rasanya nggak ada mood sama sekali *ngeles* :P.

IMG_20150725_081612

Continue reading “Tips Atasi Mual Muntah Saat Hamil”

Kesehatan

Cerita tentang HSG #TTC

IMG-20150217-WA0000
Menu pengisi perut setelah HSG

Dipostingan sebelumnya, saya sudah cerita kalau saya ini suspect PCOS. Selain tahu keadaan sel telur saya yang belum normal, saya tentunya juga ingin tahu kondisi kesehatan alat reproduksi saya yang lainnya. Apakah selain sel telur yang tidak normal, ada masalah lain yang menyebabkan saya belum hamil juga. Salah satu pemeriksaan yang saya lakukan yaitu mengecek apakah ada sumbatan di saluran telur atau tidak melalui HSG (Histerosalpingografi).

Sebenarnya sudah dari dulu ingin HSG, hanya saja selain terkendala biaya saya juga perlu waktu untuk mempersiapkan mental. Kenapa? karena saya takut jika hasilnya tidak sesuai dengan harapan. Sehingga saya menundanya, meskipun sebenarnya dokter Sp.OG saya juga belum meminta saya untuk tes HSG. Namun daripada saya penasaran, akhirnya saat terakhir konsul ke dokter beberapa waktu lalu, saya memberanikan diri untuk minta HSG. Supaya jika memang ada masalah akan lebih baik tahu lebih awal dan bisa segera di obati. Saya kemudian diberi surat rujukan untuk HSG di RSIA Gunung Sawo yang dokternya perempuan. Continue reading “Cerita tentang HSG #TTC”

Kesehatan

I am PCOS Fighter

tumblr_ng2xezbaSS1tlh6oko1_500Perempuan mana sih yang nggak mau hamil? Dijamin hampir semua perempuan ingin bisa hamil dan memiliki anak ketika mereka sudah menikah. Termasuk juga saya. Yup, satu tahun lebih menikah, kami belum dikaruniai buah hati. Bukan karena kami ingin menunda, namun karena saya ternyata suspect PCOS (Polycystic Ovary Syndrom). Itu baru saya ketahui tahun lalu, beberapa bulan setelah kami menikah. Saya yang memang sudah curiga dengan mens saya yang tidak teratur, akhirnya memberanikan diri periksa ke dokter. Sampai akhirnya saya dinyatakan suspect PCOS.

Apa itu PCOS? silahkan bisa di gooling sendiri, atau baca salah satu infonya di sini. Pada intinya bisa dikatakan, PCOS menjadi salah satu penyebab infertilitas/sulit hamil. Umumnya penderita PCOS memiliki sel telur yang banyak namun kecil-kecil dan tidak memenuhi ukuran minimal untuk dibuahi. Penyebabnya apa? Sepertinya belum diketahui penyebab pastinya, namun terdapat banyak faktor risiko yang menyebabkan seseorang menderita PCOS. Mulai dari hormon Continue reading “I am PCOS Fighter”