Celoteh

Ramadhan yang Berbeda

Sudah tengah malam, tinggal menunggu hitungan jam untuk saya bersantap sahur. Berhubung mata saya belum mengantuk, sepertinya tidak ada salahnya saya mencoba memainkan jemari merangkai kata. Nggak salahkan? (Kalau salah ya berarti nggak benar, nggak salah kan? hehe..). Ah, alasan sebenarnya adalah karena saya takut telat bangun dan nggak bisa sahur hehehe…

Kalau kayak gini, jadi berasa masih jadi mahasiswa. Nglembur sampai tengah malam gini bahkan hingga pagi hari hanya untuk mengerjakan sesuatu, entah itu tugas kuliah, skripsi atau bahkan kerjaan nggak jelas entah apa itu. Sehabis itu habis subuh tidur hingga siang hari. Kalau sudah gitu, biasanya di meja saya selalu ada secangkir kopi dingin yang setia menemani menanti pagi. Tapi itu dulu, karena kini saya sedikit mengurangi mengkonsumsi kopi meskipun di laci logistik saya selalu ada persediaan kopi. Selain kopi, teman lain yang tak terlewatkan adalah Continue reading “Ramadhan yang Berbeda”

Celoteh

Kosku Istanaku

Aiihh…sudah lama nggak ngasih makan sama rumah ini. Kemarin mampir sebentar cuma buat ngasih cemilan doang *bersihin sarang laba-laba di pojokan dan mulai nyapu*. Entah kenapa beberapa bulan terakhir saya lagi malas dan nggak mood buat nulis. Lagi banyak kerjaan yang harus dikerjakan *sok sibuk pdahal juga entah apa yang dikerjakan >.<“*.  Hmmm….sebenarnya bukan sok sibuk tapi karena saya ini termasuk orang yang gampang-gampang susah buat mengumpulkan mood nulis. Mood saya nggak mau datang di sembarang tempat *ceileh*.  Dan buat saya, tempat paling nyaman nulis ya di kos. Di kamar saya yang sempit yang ukurannya cuma 2,2 x 2,2 meter *busyet, sempit amat yak? * Biar sempit gitu, kamar saya adalah tempat ternyaman. Kamar kos saya adalah istana saya. Dunia di mana sayalah yang menjadi penguasa.  Di kamar itu pula ide-ide saya lebih sering muncul. Apalagi kalau jaringan internet yang berasal dari modem zadul saya mengalir lancar, wah…buat saya itu adalah surga dunia terkecil.  Lebay ya? hehehe….biarin aja ya…ini kan rumah saya, bebas dong mau ngapain aja hihihii 😛

Nah, ngomongin soal tempat tinggal, kos saya merupakan rumah ke-2 bagi saya. Sebagaimana layaknya fungsi rumah, kos saya merupakan tempat saya kembali setelah berjibaku dengan segala rutinitas  saya di luar.  Tempat saya melepas lelah dan letih serta segala kepenatan.  Mungkin kos saya bukanlah rumah atau tempat yang paling bagus ataupun mewah. Namun buat saya kos saya adalah rumah ternyaman setelah rumah orang tua saya tentunya.

Terletak di lantai 2, bagian yang paling saya suka dari kamar saya adalah jendela kamar saya. Yup, soalnya kamar saya merupakan salah satu kamar paling strategis (versi saya). Alasannya??? Karena kamar saya punya jendela yang menghadap keluar, sehingga saya bisa memandang hujan dari tempat tidur saya yang berada di samping jendela. Buat saya, itu adalah anugrah tersendiri. 

Alasan lainnya kenapa saya nyaman dengan kos saya sekarang Continue reading “Kosku Istanaku”

Celoteh

When I was in Senior High School

Banyak yang bilang kalau masa SMA adalah masa yang paling indah. Apakah iya? Benarkah? Ah, mungkin memang iya atau mungkin juga memang tidak. Semuanya tergantung masing-masing orang. Tiap orang punya kisahnya sendiri. Seperti halnya diriku yang juga punya kisahku sendiri.

      Hmmm….Weekend kali ini, ketika Natal tiba dan teman-teman yang lain pulang berlibur and meet their family. Aku malah sudah 2 hari, eh nggak ding, 3 hari dengan hari ini justru belum keluar kosan. Di rumah kosan dengan kapasitas 13 kamar yang kutempati sekarang malah hanya tinggal bertiga aja. Dan di lantai 2 tempat kamarku berada,  I’m  alone…huhuhu…Yup, dan parahnya lagi, sedari jum’at kemarin hanya berkutat antara, kamar, ruang TV, kamar mandi dan dapur sambil sekali-kali menjejakkan kaki ke ruang tamu atau ke Continue reading “When I was in Senior High School”

Celoteh

Galau Tengah Malam

     Membaca tulisan seorang kawan di lapak sebelah membuatku teringat ke suatu suasana di dalam sebuah rumah di sebuah kota bernama Purwokerto.  Aku kangen dengan para penghuni di dalam rumah itu, bapak, ibu dan adekku satu-satunya. Kira-kira kalian sedang apa ya sekarang? Berandai-andai diriku ada didalam rumah itu. Rumah yang kecil, sederhana dan apa adanya, namun sangat berarti untukku.

      Tapi kini, kenyataannya ragaku tidaklah disana tapi berada di kota ini. Kota yang lima tahun terakhir sudah menjadi kota keduaku. Kota yang kala siang sangat susah untuk berdamai dengan cuacanya yang panas. Kota yang perlahan-lahan juga sudah menggerogoti hatiku.  Dan kini, mau tak mau , suka tidak suka, rela tidak rela, harus aku akui kalau kota yang agak sering kena banjir kalau ujan deras ini telah merebut sebagian hatiku dan membawanya bersamanya. Continue reading “Galau Tengah Malam”