Kesehatan

Tips ASI Lancar

Beberapa hari yang lalu, dapat kabar teman kuliah ada yang baru saja melahirkan. Namun, karena jarak yang memisahkan saya belum bisa menjenguknya dan hanya berkomunikasi via telp saja. Kami pun saling bertukar cerita tentang proses persalinan serta menyusui.  Kebetulan teman saya ini ASI-nya nggak keluar di awal-awal pasca persalinan. Keluar sih, tapi hanya sedikit saja dan hal tersebut cukup membuat cemas dan stres teman saya. Dia takut ASI-nya nggak lancar dan terpaksa harus memberi susu formula, padahal dia ingin memberikan ASI eksklusif  kepada anaknya. Hal tersebut jadi kembali mengingatkan saya saat melahirkan Kenzie sekitar satu tahun lalu.

Menjadi ibu untuk pertama kali, saya juga sempat mengalami kebingungan dan kehebohan tentang bagaimana saya mengurus dan merawat anak nantinya. Di awal pasca melahirkan, yang paling bikin pusing adalah bagaimana saya bisa menyusui si kecil dengan benar, bisa memberikan ASI eksklusif dan anak bisa lulus S3. Semenjak masa kehamilan, saya sudah bercita-cita anak saya nggak usah pakai susu formula. Sebisa mungkin bisa menyusui hingga 2 tahun, atau setidaknya minimal bisa ASIX deh. Dan untuk itu, I will do everything… Yup, saya akan berusaha semaksimal mungkin biar anak saya bisa dapat ASIX dan tetap dapat ASI hingga 2 tahun. Kenapa? Tentunya para ibu-ibu sudah pada tahu dong segimana penting dan hebatnya si ASI. Nggak cuma bermanfaat bagi bayi tapi juga bagi ibunya. Buat yang belum tahu, silahkan googling sendiri saja dan saya yakin kalian pasti akan say “yes” juga hihihi… Continue reading “Tips ASI Lancar”

Celoteh · Dapur

Wajah Baru Starbucks Paragon Semarang

dsc_0002Saat weekend adalah saatnya bersantai dan menghilangkan kejenuhan. Bahkan bagi saya yang sekadar ibu rumah tangga biasa yang kerjaannya itu itu saja, saat weekend tetaplah istimewa. Kenapa? Karena suami saat weekend lebih mau buat di ajak kemana-mana hehehe…Salah satunya saat saya ajak untuk datang bersama menghadiri re-launching Starbucks Paragon Semarang Sabtu (10/9) kemarin. Setelah sempat tutup sekitar satu bulanan, kini renovasinya sudah selesai dan Starbucks sudah dibuka kembali.

Seperti apa tampilan baru Starbucks? Kalau menurut saya tampilannya terlihat jauh berbeda dengan sebelumnya. Meskipun sama-sama nyamannya, tapi saya lebih suka melihat tampilan baru Starbucks yang sekarang. Terkesan lebih luas dan lebih hmmm…”plong” kalau dalam bahasa jawanya. Mungkin ini salah satunya dikarenakan atapnya yang dibuat model terbuka dengan  menampakkan pipa-pipa saluran air dan udara dengan apa adanya. Selain itu, perubahan lainnya terdapat pada bagian bar-nya yang sekarang berada di tengah dan lebih terbuka. Kalau kata Mba Nadia dari pihak Marketing Starbucks, konsep ini mereka namakan “you can see bar“. Jadi pelanggan bisa melihat proses sang coffee master membuat minuman pesanan mereka. Continue reading “Wajah Baru Starbucks Paragon Semarang”

Celoteh

Review RS Bunda Semarang

Pengalaman melahirkan merupakan sesuatu yang mendebarkan terutama untuk yang pertama kalinya. Persiapan menyambut si kecil membuat orang tua khususnya si ibu menjadi excited. Salah satunya adalah memilih tempat persalinan. Apakah memilih melahirkan dengan bantuan dokter atau bidan? Apakah memilih di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA), Rumah Sakit Umum atau Rumah Bersalin? Saya yakin, tidak sedikit yang mengalami kegalauan memilih tempat persalinannya, termasuk saya hehehe….

Nah, setelah sebelumnya jauh-jauh hari saya survei tentang RS berikut biaya persalinannya, menjelang HPL saya masih saja galau. Baru di minggu terakhir akhirnya saya bisa memutuskan mau melahirkan dimana. Seperti sudah saya ceritakan di postingan sebelumnya, saya akhirnya memilih melahirkan di RS Bunda mengambil kamar kelas 3 yang paling murah.

Berhubungan kehamilan pertama saya ini normal dan tidak ada indikasi yang mengharuskan saya untuk operasi, saya sempat berniat melahirkan di dokter lain atau bahkan di bidan saja, yang murah bahkan gratis jika menggunakan BPJS. Namun atas beberapa pertimbangan saya akhirnya memilih melahirkan di dokter saya biasa kontrol. Continue reading “Review RS Bunda Semarang”

Kesehatan

Estimasi Biaya Persalinan di Semarang

Alhamdulilah, nggak terasa usia kehamilan sudah memasuki 7 bulan. Selama 7 bulan ini berat saya hanya naik 6 kg saja semenjak 3 bulan terakhir. Jadi tiap bulan rata-rata naik 2 kg saja, maka itu artinya sampai nanti waktunya melahirkan totalnya hanya 12 kg saja hihihi…Insyallah sih berat tersebut masih aman untuk janin, karena dokter saya juga nggak komentar apa-apa dan setahu saya memang kenaikan berat normal antara 10-15 kg.

Nah, ngomongin masalah persalinan yang sekitar 2 bulanan lagi. Saya sudah mulai memikirkan segala tetek bengeknya. Mulai dari nama calon anak jika laki-laki maupun perempuan, perlengkapan calon ibu dan bayi hingga yang utama adalah biaya melahirkan.Sebenarnya sih sudah mulai di pikir dan sudah pula di list dari kemarin-kemarin, tapi masih nyantai. Kalau masalah nama sudah ada beberapa pilihan. Masalah perlengkapan ibu dan bayi juga sudah mulai terkumpul. Alhamdulilah nggak terlalu banyak yang harus dibeli, karena dapat hibah dari kakak ipar. Lumayan berhemat banget gitu, hehehe…Nah, yang paling penting adalah masalah biaya persalinan. Untuk yang satu ini tergantung tempat dimana saya melahirkan nanti dan itu masih dalam proses. Penginnya di bidan saja yang lebih murah dan semoga nanti semuanya lancar sehingga saya bisa melahirkan dengan normal.

Ngomongin soal biaya untuk lahiran, tentunya yang jadi perhatian utama adalah masalah biaya. Kalau punya banyak duit mah nggak masalah mau lahiran dimana, bebas memilih RS yang dimau dan yang memiliki fasilitas terbaik. Tapi bagi saya, biaya/tarif tiap RS yang berbeda-beda menjadi pertimbangan tersendiri. Jadi, untuk itu saya pun mencari tahu tarif beberapa RS yang berpotensi menjadi tujuan tempat bersalin saya nanti. Berikut ini adalah hasil survey saya untuk estimasi biaya melahirkan di beberapa RS di Semarang Continue reading “Estimasi Biaya Persalinan di Semarang”

Celoteh

When Studying Abroad Looks Fun

gambar di ambil dr www.buzzfeed.com
gambar di ambil dari http://www.buzzfeed.com/ikea/college-living-expectations-vs-reality

Punya keluarga, teman atau kenalan yang sedang study abroad? Mereka selalu upload dan posting foto-foto selama di negeri orang. Siapa sih yang nggak ngiri? Bukankah terlihat menyenangkan melihat mereka bisa jalan-jalan kesana kemari. Berada di tempat-tempat yang mungkin hanya bisa kita bayangkan bisa menjamahnya. Bertemu dan berkumpul dengan orang-orang baru. dan merasakan berbagai pengalaman baru.  Tapi percayalah, dibalik semua foto-foto tersebut ada stres dan duka yang tersembunyi. Itu menurut pengakuan salah seorang teman yang sedang study abroad di salah satu postingannya di FB.

Yup,menurut  teman saya yang sekarang sedang merantau di negeri Paman Sam tersebut, dibalik semua foto-foto yang (terlihat) menyenangkan tersebut, ada stress yang tak terlihat

“Harus banyak banget baca buku, textbook, ubek-ubek google sana- sini, capek ngomong bahasa Inggris seharian (udah gitu kadang masih nggak ngerti), culture shock, homesick buanget (bahkan termasuk Jakarta yang macetnya ngeselin), ngelakuin apa apa harus sering-sering sendiri, adaptasi adaptasi, kudu makan makanan yang seadanya dan dimasak sendiri (karena pengen ngirit dan sesuai dengan lidah), pun mesti pinter-pinter atur duit berhubung jadi anak kuliahan lagi,” Ujarnya.

See..ternyata nggak semuanya yang terlihat menyenangkan itu menyenangkan, selalu ada negatif dan positifnya. Jujur saja, setelah membaca postingan teman saya tersebut seperti menjadi “penghibur” tersendiri bagi saya pribadi. Saya termasuk salah seorang dari sekian banyak yang punya impian bisa melanjutkan study ke luar negeri. Berharap suatu saat nanti bisa meraih gelar master di salah satu universitas ternama di luar negeri. Setiap kali ada teman saya yang memiliki keberuntungan bisa mendapatkan beasiswa untuk study abroad, saya merasa senang dan bangga sekaligus iri dengan mereka. Senang dan bangga bisa memiliki teman-teman yang sukses dan iri karena belum bisa seperti mereka.

Tidak hanya iri melihat teman-teman saya bisa melanjutkan kuliah di negeri orang, tapi juga iri melihat kesuksesan karir mereka. Ya, mayoritas dari mereka adalah para pekerja dengan posisi cukup mapan di tempat mereka bekerja dan perempuan pula. Jika  membandingkannya dengan diri saya, tentu saja kalah jauh, saya bukanlah apa-apa. Minder? Bohong jika perasaan itu tak pernah mampir dalam hati saya. Setidaknya beberapa tahun lalu saya membayangkan setelah lulus kuliah S1 saya bisa berkarir dan bekerja di perusahaan ternama dengan posisi yang pantas untuk bisa dibanggakan. Namun nyatanya, saya bukanlah orang yang cukup pintar dan pandai untuk lolos tes rekruitmen beberapa perusahaan incaran yang saya ikuti. Sampai akhirnya saya pun menikah dan hingga saat ini status saya bekerja sebagai pengurus rumah tangga.

Namun di sisi lain saya terkadang bersyukur atas semua ini. Ya, saya bersyukur kini saya sudah menikah, saya bersyukur saya tidak pernah di terima di perusahaan incaran. Mengapa? Karena jika saya diterima bekerja dan atau menunda pernikahan saya, hampir bisa dipastikan saya akan lebih menyesal. Saya akan menyesal karena saya mungkin tidak akan pernah bisa menengok dan merawat Bapak sesering yang telah saya lakukan. Jika saya diterima bekerja yang notabene perusahaan-perusahaan incaran saya tersebut berada di luar Purwokerto, saya pasti akan menggunakan alasan jarak dan waktu untuk tidak bisa sering pulang padahal Bapak sering keluar masuk rumah sakit. Dan jika saya menunda pernikahan, maka saya tidak akan pernah merasakan bagaimana rasanya dinikahkan oleh Bapak. Ya, karena awal Juni lalu Bapak akhirnya menyusul Ibu dan meninggalkan kami untuk selama-lamanya.

gambar di ambil dr Pinterest
gambar di ambil dari Pinterest

Bukankah Tuhan tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan hamba-Nya? Mungkin jika sekarang saya dan teman saya yang study abroad bertukar posisi, belum tentu saya mampu bertahan di negeri orang. Jangankan bisa paham materi kuliah di kelas dan ngerjain tugas dengan lancar, buat ngomong  Inggris aja saya masih sangat kacau balau. Ataupun sebaliknya, jika dia berada di posisi saya belum tentu juga ia bisa melewatinya.  Yang saya yakini, semua yang kita alami pada hakekatnya adalah proses untuk menjadikan kita orang yang kuat dan lebih baik dari sebelumnya. Tentu saja dengan cara yang berbeda menyesuaikan kadar kemampuan masing-masing dan itu hanya Tuhan yang tahu. Jika orang lain sudah mencapai mimpinya sedangkan kita belum, bukan berarti kita tidak akan pernah bisa mencapainya. Anggap saja, Tuhan belum memberikan kesempatan itu kepada kita. Tuhan masih menunggu dan melihat seberapa besar perjuangan kita hingga kita di anggapnya layak untuk mendapat kesempatan tersebut.  Percaya deh Tuhan itu Maha Tahu. Dia memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Nggak percaya? Coba kalian rubah sedikit sudut pandang kalian 😉

So, kalian adakah yang masih berkeinginan study abroad? Kalau saya sih masih kepengin, Insyaallah suatu saat nanti bisa study abroad bareng sama suami, aamiin…. 😀

Celoteh

Selektif Memilih Informasi

Tinggal menghitung hari untuk pemilu dan perseteruan kedua kubu pendukung capres sepertinya kian memanas. Pagi tadi seusai subuhan, saya sama suami baca-baca berita tentang pemilu di Internet. Dari berita-berita tersebut, yang kami sayangkan banyak orang atau tokoh yang memilih capres No.1 dan No.2 hanya berdasarkan atas isu atau wacana tertentu. Yang namanya isu dan wacana kan sesuatu yang nggak jelas pasti tidaknya, hanya kasak-kusuk.  Anehnya ketika mereka menyatakan tidak memilih salah satu capres tertentu dengan menggunakan kata “katanya”. Nah loh, berarti sebenarnya mereka nggak yakin dong dengan apa yang mereka katakan.

Banyak isu negatif dan black campaign yang disebarkan atas kubu lawan demi meraih simpatisan. Internet pun menjadi media paling mudah untuk menyebarkannya. Hal ini kemudian membuat banyak muncuk “situs-situs berita” dadakan yang pro dan kontra terhadap salah satu capres. Alhasil banyak juga yang terpancing emosinya dan saling serang komentar. Sayangnya, nggak sedikit para pengguna internet yang akhirnya menelan mentah-mentah informasi yang di dapatkannya tanpa cek ricek terlebih dahulu kebenaran berita tersebut. Hal ini tidak berlaku hanya untuk informasi terkait capres saja tapi juga informasi dan berita lainnya. Jadi, alangkah baiknya jika kita tidak langsung percaya begitu saja terhadap suatu pemberitaan tertentu.

Beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk mengetahui kebenaran berita Continue reading “Selektif Memilih Informasi”

Celoteh

Looking for your “Ibu Peri”

Nah, kalau di postingan terakhir saya yang mencari “Ibu peri “. Postingan saya kali ini semoga bisa membantu teman-teman yang lagi nyari “Ibu perinya”. Hmm…jujur saja, saya sudah 6 bulan lebih ga update blog. Kalau mau minta alasan, pasti teman-teman sudah tahu dong…apalagi kalau bukan menyibukkan diri (baca: malas) hehe…Eh, tp ada benernya sih, pas nulis postingan sebelumnya itu saya pas lagi ribet-ribetnya mengurus persiapan pernikahan saya. Pasca menikah saya sibuk jadi ibu rumah tangga hehehe…*tsaaahh.

Alhamdulillah sah! :P Ini foto tanpa editan loh. Gimana? cantik kan? *maksa :D
Alhamdulillah sah! 😛
Ini foto tanpa editan loh. Gimana? cantik kan? *maksa 😀

Sebenarnya saya sudah berniat untuk menulis kelanjutan persiapan pernikahan saya dari dulu, tapi baru mood buat nulis lagi setelah terdorong *halah* dari beberapa komen yang bertanya…dan sepertinya review saya tentang perias pengantin yang saya pakai dapat berguna bagi capeng lainnya. Selain itu bulan ini kebetulan beberapa teman saya menikah dan beberapa yang lainnya sedang mempersiapkan pernikahannya. Jadinya greget gitu pengin berbagi saran dan masukan buat capeng lain.

Kalau ngomongin soal perias manten, akhirnya setelah dengan berbagai pertimbangan saya memakai jasa dari Continue reading “Looking for your “Ibu Peri””