Celoteh

Bride To Be

Gambar-Baju-Pengantin-Muslim-01
I wish I could wear this on my wedding day. Ciamik sekali kan?

Masih sekitar 1,5 bulan lagi menjelang My Wedding Day dan saya belum mempersiapkan apa-apa. What??? Kaget kan? Saya sendiri juga kaget. Oke, sebenarnya bukannya belum mempersiapkan apa-apa sama sekali, tp memang belum bisa dan hanya baru beberapa persen saja. Kenapa? Saya ada di Semarang bukannya  di Purwokerto, yang notabene akan menjadi lokasi perhelatan hari bersejarah dalam hidup saya tersebut. So? Ya, saya susah dong kalau harus ngurus ini itu tapi saya nggak di lokasi. Alasan saja kamu le…Huft, dan sejujurnya itu memang hanya sekadar alasan saya saja. Alasan utamanya adalah karena saya belum ada dan belum tahu budget pasti untuk acara pernikahan saya tersebut.

Rencananya pernikahan saya ini bisa dibilang kilat, meskipun bukan mendadak. Gimana nggak, ndodok lawang yang sekaligus lamaran dilakukan tepat sebelum puasa, sekitar semingguan setelah cami sidang thesis. Saya sebenarnya penginnya Continue reading “Bride To Be”

Celoteh

Ramadhan yang Berbeda

Sudah tengah malam, tinggal menunggu hitungan jam untuk saya bersantap sahur. Berhubung mata saya belum mengantuk, sepertinya tidak ada salahnya saya mencoba memainkan jemari merangkai kata. Nggak salahkan? (Kalau salah ya berarti nggak benar, nggak salah kan? hehe..). Ah, alasan sebenarnya adalah karena saya takut telat bangun dan nggak bisa sahur hehehe…

Kalau kayak gini, jadi berasa masih jadi mahasiswa. Nglembur sampai tengah malam gini bahkan hingga pagi hari hanya untuk mengerjakan sesuatu, entah itu tugas kuliah, skripsi atau bahkan kerjaan nggak jelas entah apa itu. Sehabis itu habis subuh tidur hingga siang hari. Kalau sudah gitu, biasanya di meja saya selalu ada secangkir kopi dingin yang setia menemani menanti pagi. Tapi itu dulu, karena kini saya sedikit mengurangi mengkonsumsi kopi meskipun di laci logistik saya selalu ada persediaan kopi. Selain kopi, teman lain yang tak terlewatkan adalah Continue reading “Ramadhan yang Berbeda”

Celoteh

Celoteh Sebelum Tidur

Hmmm….sudah lama sekali saya nggak berbenah di rumah saya yang satu ini. Maaf kalau saya jarang meng-update, pastinya kalian para follower blog ini sudah nggak sabar ya baca postingan saya yang terbaru *sok ngartis padahal nggak ada yang nungguin* . Iya, harap maklum saja ya, soalnya beberapa bulan terakhir saya sedang sibuk dengan kehidupan saya di dunia nyata.

Semenjak ibu meninggal awal Desember lalu, banyak hal yang terjadi dalam hidup saya. Bisa dibilang hidup saya berubah cukup drastis. Gimana nggak berubah, saat itu saya langsung resign dari studio komik Papillon dan kembali ke kota asal saya, Purwokerto. Sebagian mimpi yang sudah saya rancang pun harus saya hapus dan saya susun ulang. Jujur, terkadang rasanya masih nggak percaya kalau saya ini sudah menjadi piatu. Namun saya yakin Tuhan sudah punya skenario tersendiri untuk hidup saya dan apapun rencananya, Insyaallah itulah yang terbaik meskipun terkadang mungkin bukan yang kita inginkan. Akhirnya, saya pun berencana mencari pekerjaan di kota SATRIA saja agar bisa menemani dan mengurus bapak yang di usianya yang senja ini sering sakit-sakitan. Apalagi pertengahan Januari-Februari ini adik saya satu-satunya harus KKN di luar kota. Otomatis bapak bakalan sendirian. Saya pun sudah bersiap-siap angkat kaki dari kota ATLAS. Awal bulan Januari, saya sudah mengepak dan mengeluarkan semua barang-barang saya dari kamar kosan. Namun Continue reading “Celoteh Sebelum Tidur”

Celoteh

Desperate Daughter, Am I?

“Apa kabarnya? Gimana sudah dapat kerjaan belum? Jangan lupa solat, kalau bisa tiap malam bangun tahajud. Sempetin juga baca Qur’annya meski cuma beberapa ayat”. 

Begitulah kira-kira isi pesan dari Bapak sebelum akhirnya beliau (kembali) menelpon saya. Bukan sekali dua kali saya mendapatkan pesan seperti itu dari Bapak, namun sudah berkali-kali, tak terhitung banyaknya sejak saya wisuda sekitar 5 bulan lalu. Selain bertanya kabar, pertanyaan (wajib) selanjutnya adalah tentang kehidupan karir anaknya ini. Kalau sudah begitu, saya seringkali lebih banyak hanya meminta do’a restu dari beliau. Mohon di do’akan agar anak tertuanya ini segera mendapatkan pekerjaan yang terbaik. Ah…padahal tanpa diminta pun, kau  selalu menyebut anakmu dalam setiap do’a-do’amu. Acap kali setiap mendengar suara Bapak  diujung telepon, saya hanya bisa bergumam sedih dalam hati,

Maafkan anakmu ini Pak, belum bisa membahagiakanmu. 

Maafkan anakmu ini Pak, karena seharusnya sekarang sudah bisa menggantikan posisimu menjadi tulang punggung keluarga.

Maafkan anakmu ini Pak, belum bisa menjadi anak yang berbakti.

Jangan tanya sama saya, sudah berapa banyak lamaran pekerjaan yang saya kirimkan. Apakah saya yang terlalu pilih-pilih pekerjaan? Ya…saya memang pilih-pilih pekerjaan, namun masih dalam batas wajar. Pantangan terbesar saya cuma ada dua saja kok. Pertama, saya nggak mau pekerjaan bidang sales/marketing karena saya ini nggak pandai jualan. Continue reading “Desperate Daughter, Am I?”

Celoteh

Galau Tengah Malam

     Membaca tulisan seorang kawan di lapak sebelah membuatku teringat ke suatu suasana di dalam sebuah rumah di sebuah kota bernama Purwokerto.  Aku kangen dengan para penghuni di dalam rumah itu, bapak, ibu dan adekku satu-satunya. Kira-kira kalian sedang apa ya sekarang? Berandai-andai diriku ada didalam rumah itu. Rumah yang kecil, sederhana dan apa adanya, namun sangat berarti untukku.

      Tapi kini, kenyataannya ragaku tidaklah disana tapi berada di kota ini. Kota yang lima tahun terakhir sudah menjadi kota keduaku. Kota yang kala siang sangat susah untuk berdamai dengan cuacanya yang panas. Kota yang perlahan-lahan juga sudah menggerogoti hatiku.  Dan kini, mau tak mau , suka tidak suka, rela tidak rela, harus aku akui kalau kota yang agak sering kena banjir kalau ujan deras ini telah merebut sebagian hatiku dan membawanya bersamanya. Continue reading “Galau Tengah Malam”