Celoteh

Review RS Bunda Semarang

Pengalaman melahirkan merupakan sesuatu yang mendebarkan terutama untuk yang pertama kalinya. Persiapan menyambut si kecil membuat orang tua khususnya si ibu menjadi excited. Salah satunya adalah memilih tempat persalinan. Apakah memilih melahirkan dengan bantuan dokter atau bidan? Apakah memilih di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA), Rumah Sakit Umum atau Rumah Bersalin? Saya yakin, tidak sedikit yang mengalami kegalauan memilih tempat persalinannya, termasuk saya hehehe….

Nah, setelah sebelumnya jauh-jauh hari saya survei tentang RS berikut biaya persalinannya, menjelang HPL saya masih saja galau. Baru di minggu terakhir akhirnya saya bisa memutuskan mau melahirkan dimana. Seperti sudah saya ceritakan di postingan sebelumnya, saya akhirnya memilih melahirkan di RS Bunda mengambil kamar kelas 3 yang paling murah.

Berhubungan kehamilan pertama saya ini normal dan tidak ada indikasi yang mengharuskan saya untuk operasi, saya sempat berniat melahirkan di dokter lain atau bahkan di bidan saja, yang murah bahkan gratis jika menggunakan BPJS. Namun atas beberapa pertimbangan saya akhirnya memilih melahirkan di dokter saya biasa kontrol. Berikut ini alasan saya kenapa akhirnya memilih melahirkan di dokter:

  1. Sudah nyaman dengan dokter kandungan saya. Sedari sebelum hamil saya periksanya dengan dr Putri, jadi beliau sudah tahu riwayat kesehatan saya dari awal. Kalau saya ganti dokter/bidan saya harus menjelaskan dari awal lagi. Selain itu menurut saya sudah agak terlambat kalau ganti dokter, sudah tinggal menghitung hari. Lagian sepertinya belum jodoh dengan dokter lain, karena pernah mau periksa ke dokter lain tapi gagal terus.
  2. Melahirkan dengan dokter lebih terasa mantap di hati. Itu sih untuk saya pribadi. Kenapa? karena dokter lebih punya “pengetahuan” dan “wewenang” kalau terjadi sesuatu dengan pasiennya. Selain itu kalau dengan dokter melahirkannya tentu di rumah sakit. Di rumah sakit punya tenaga dan peralatan yang lebih memadai dibandingkan dengan dokter. Jika terjadi sesuatu yang mengharuskan tindakan lain misalnya operasi maka akan lebih cepat ditangani. Kalau melahirkan di bidan, jika terjadi sesuatu maka harus di rujuk ke rumah sakit dan tentu itu akan memakan waktu, seperti misalnya perjalanan dari tempat si bidan menuju ke rumah sakit. Pada kasus saya kemarin, saya harus di vakum karena ternyata si kecil terlilit tali pusat di leher dan badan. Hal yang sama sekali tidak terduga karena sebelumnya tidak ada prediksi si kecil terlilit. Masih beruntung si kecil bisa lahir normal meski harus vakum. Saya tidak bisa membayangkan kalau saya melahirkan bukan di rumah sakit, lalu tiba-tiba di tengah-tengah proses harus ada tindakan lain yang hanya bisa dilakukan di rumah sakit 😐
  3. Di rumah sakit lebih banyak “tenaga” yang membantu. Yup, ini adalah faktor lain yang saya temukan ketika melahirkan. Di rumah sakit, saya merasa lebih terbantu dengan hadirnya para perawat yang membantu saya melahirkan. Setidaknya kurang lebih ada 2-3 perawat yang membantu proses persalinan saya dan itu sangat membantu. Saat itu ketika saya sudah kelelahan, 2 orang perawat masing-masing membantu memegang kaki saya dan itu sangat membantu. Saya membayangkan jika saya melahirkan di bidan, kemungkinan akan lebih repot karena bidan tersebut kemungkinan hanya dibantu 1 perawat saja bahkan mungkin hanya sendirian menangani proses persalinan.
  4. Ada jeda untuk si ibu beristirahat. Jika melahirkan di rumah sakit, biasanya setidaknya kita akan berada di RS selama 3 hari. Selama 3 hari tersebut, kita akan sedikit terbantu karena setidaknya ada perawat yang akan membantu kita mengurus si kecil, seperti mengganti popok dan memandikan. Jika di bidan biasanya hanya beberapa jam setelah melahirkan kita akan pulang dan tentunya setelah di rumah maka kita sendiri yang akan mengurus si kecil.

Beberapa faktor di atas hanya sebagian dari nilai plus jika memilih melahirkan di RS. Meskipun di sisi lain ada nilai minusnya seperti biaya yang tentunya lebih mahal. Mau memilih melahirkan dimana saja, yang penting menurut saya adalah keyakinan si ibu sendiri untuk memilih sendiri siapa yang akan membantunya. Karena si ibu yang akan menjalani proses persalinan maka si ibu seharusnya merasa nyaman dan yakin dengan pilihannya.

Nah, dari pengalaman saya melahirkan di RS Bunda kemarin,terkait pelayanan di RS Bunda menurut saya sudah bagus. Beberapa poin yang menjadi plus minus RS Bunda menurut saya antara lain.

  1. Tidak ada perbedaan pelayanan. Meskipun saya mengambil kamar kelas 3, namun tidak ada tuh cerita perawat judes dan menjengkelkan. Semuanya ramah dan kooperatif.
  2. Pro IMD dan  bayi rawat gabung dengan ibunya. Ini merupakan salah satu pertimbangan utama saya dari awal ketika memilih tempat melahirkan.
  3. Makanan yang bervariasi dan enak-enak. Tapi kalau untuk kelas 3 hanya pasien saja yang dapat jatah makan, berbeda dengan kelas 1 ke atas yang mendapat jatah makan tambahan untuk 1 penunggu.
  4. Suasana yang tenang (cenderung sepi) dan hommy. Suasana rumah sakit yang tenang dan terasa hommy juga menjadi nilai lebih tersendiri. Terlebih karena merupakan RS Ibu dan Anak maka itu artinya pasiennya hanya ibu dan anak saja. Menurut saya itu lebih aman dibandingkan dengan rumah sakit umum dinama yang dirawat bukan hanya pasien ibu dan anak saja, tapi juga pasien penyakit lain. Kenapa? Karena dengan begitu kuman/bakteri/virus di RSIA kemungkinan lebih sedikit/lebih aman daripada di RS umum. Dengan adanya lebih banyak pasien dengan berbagai macam penyakit maka kemungkinan tentunya akan lebih banyak virus/bakteri yang mengancam si kecil yang daya tahannya masih lemah.
  5. Minusnya kalau di kelas 3, harus siap berbagi privasi dengan pasien lain. Saat malam pertama hanya saya pasiennya, namun esok harinya ada 2 pasien baru masuk, artinya kamar jadi lebih sempit hehehe…Tapi buat saya sih nggak masalah, toh cuma sebentar karena besoknya sudah boleh pulang.
  6. Perawatnya kurang pro ASIX, meskipun juga tidak pro sufor. Jadi biasa-biasa saja gitu, mereka menyerahkan ke si ibu. Mau ASIX silahkan, mau sufor juga silahkan. Saat hari pertama saya meminta air panas untuk mengompres payudara saya, oleh bidan di sana malah dilarang. Katanya itu nanti, pertama-tama nanti saya akan di ajari cara menyusui yang benar dahulu baru kemudian untuk perawatannya seperti mengompres/massage. Namun pada kenyataannya, bisa dibilang saya jalan sendiri. Saya malah di ajari cara menyusui yang benar oleh teman yang menjenguk saya. Jadi buat yang ingin melahirkan di RS Bunda, sebaiknya anda yang aktif bertanya kepada perawatnya. Mereka insyaallah tidak keberatan dan akan membantu. Hanya saja saya kemarin memang tidak aktif bertanya sehingga kemungkinan menurut mereka saya dianggap sudah mampu sendiri.
  7. Saat saya di rawat di kelas 3 kebetulan ACnya menurut saya nggak dingin. Kemungkinan karena freonnya habis. Saya sampai berkeringat banyak dan untungnya saya bawa kipas.
  8. Kamar mandi dalam ada 1 dan ada air panasnya. Sayangnya saat pertama kali saya mandi, air panasnya nggak bisa. Baru setelah lapor ke perawat, besoknya saat mandi baru bisa dipakai air panasnya.

But overall menurut saya pelayanan di RS Bunda sudah cukup bagus. Oh iya, saat akan pulang kita  juga mendapat bingkisan kenang-kenang loh dari pihak RS. Kemarin kalau tidak salah saya mendapat tas bayi, mangkuk berlogo RS Bunda dan juga pigura ucapan selamat dengan foto si kecil.  Nah, demikian tadi sedikit cerita pengalaman saya melahirkan si kecil. Adakah yang ingin berbagi pengalaman saat persalinan?

Advertisements

11 thoughts on “Review RS Bunda Semarang

  1. Salam kenal Mbak. Sy jg masih juaro referensi RS melahirkan nih. Kontrol jg di dr Putri-Bunda. Pernah bedrest dsana 2 hari enjoy bgt krn makanannya enak. Cm emng sayangnya gak bisa manfaatin BPJS ya..

    Like

  2. Salam kenal Mbak. Sy jg masih cari referensi RS melahirkan nih. Kontrol jg di dr Putri-Bunda. Pernah bedrest dsana 2 hari enjoy bgt krn makanannya enak. Cm emng sayangnya gak bisa manfaatin BPJS ya..

    Like

    1. Salam kenal juga mba..Wah, samaan nih berarti, tos dulu dong hihi…Hu um, sayangnya ga bs pake BPJS. Klo mo ttp di dr.Putri dan pake BPJS paling ya di Hermina Banyumanik. Tp itu pun potongannya ga seberapa menurutku, masih sama2 mahalnya huhuhu…

      Like

  3. Itu 2016 ya.. Saya lahiran anak pertama 2012 paketannya masih sskitar 3.5jt. Ini lahiran anak ke2 jg mau kesNa lagi..tapii wow juga ya naiknya hehe
    Saya jg dgn bu putri lho..antrinya skrg panjang bgt banyak bgt pasiennya 🙂

    Like

  4. Review dan estimasi biaya bersalinnya helpfull banget, Mbak. Terutama buat pendatang seperti aku yang mutusin buat lahiran nanti di Semarang. Bakal ngikutin jejak mu sepertinya karena RSB Bunda tidak semahal yang dibilang orang2. Hihihi

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s