Jalan-jalan

Liburan Lebaran di Desa

Libur panjang sekolah memang paling asyik buat jalan-jalan bareng keluarga. Tapi kayaknya itu nggak ngefek sih buat emak-emak beranak bayi kayak saya hehehe…Jalan-jalan keluar kota menjelajahi tempat baru memng menjadi salah satu alternatif seru mengisi liburan. Tapi kalau buat saya yang budgetnya cekak, liburan ke luar kota paling masuk akal adalah liburan pulang mudik ke kampung. Yup, bagi saya liburan itu nggak harus selalu jalan-jalan ke tempat baru. Pulang mudik ke desa sudah cukup sebagai liburan istimewa bagi saya. Why? Karena saya bisa ketemu sama keluarga yang jarang bersua. Mungkin setahun hanya sekali bertemu bahkan ada yang lebih. Pulang mudik menjadi cerita nostalgia tersendiri buat saya.

Contohnya seperti saat lebaran kemarin. Setelah 2 kali lebaran nggak pulang mudik, akhirnya saya sekeluarga mudik juga ke Purwokerto coret. Ini merupakan lebaran ke dua saya di desa semenjak menikah. Lebaran tahun pertama menikah, Kenzie belum ada. Tahun ke-2 lagi hamil Kenzie dan saat itu adik yang lebaran di Semarang. Tahun ke-3, Kenzie masih bayi banget jadi rempong mudik bawa bayi. Buat emak-emak lainnya kayak mba Wuri sama mba Muna pasti tahu dong kerempongan pergi bawa bayi hehehe….Nah, sekarang Kenzie sudah 1,5 tahun jadi sudah besar, saatnya ngajakin Kenzie mengeksplore tanah kelahiran emaknya hehehe…

Dari sekian kali pulang mudik, mungkin mudik lebaran kemarin jadi salah satu mudik sekaligus jadi salah satu liburan paling berkesan bagi saya. Kenzie lagi heboh-hebohnya suka mengeksplore segala hal disekitarnya. Dia sudah cukup bisa untuk diajak berkomunikasi, meskipun belum bisa bicara. Mengajaknya ke tempat baru dengan suasana pedesaan yang asri tampaknya cukup sukses membuatnya penasaran. Banyak hal baru yang dia temukan dan bisa dilakukan di desa.  Mulai dari alam pedesaan yang asri hingga teman main bersama. Semuanya sukses membuat Kenzie betah selama tinggal 10 hari di desa. Bahkan bisa di bilang waktu 10 hari tersebut buat saya masih kurang. Yes beneran deh kurang pakai banget. Rencana saya untuk mengeksplore Purwokerto pun akhirnya bisa dibilang failed alias gagal. Padahal banyak tempat yang ingin saya kunjungi di Purwokerto. Namun, karena waktu yang nggak memungkinkan serta cuaca yang juga kadang nggak mendukung akhirnya ya gitu deh… Kami cuma jalan-jalan disekitaran rumah atau desa saja. Tapi biarpun demikian, banyak hal baru yang menarik buat Kenzie dan bikin suami nggak bosan. Jadi 10 hari bagi kami terasa cepat banget berlalu.Berikut ini adalah beberapa alasan kenapa Kenzie betah di desa:

  • Rumahnya luas. Yup, rumah saya di desa termasuk luas. Tahu sendirilah model rumah di desa yang jadul itu gimana. Dengan rumah yang luas, Kenzie bebas main berlarian kesana kemari di dalam rumah dengan lebih leluasa. Ini bikin Kenzie jadi lebih betah. Apalagi ada adik sepupunya yang bisa jadi teman main. Meskipun kadang berantem juga sih, sama kayak emak-emaknya dulu hehehe…
  • Di desa, banyak pilihan tempat untuk ngajakin Kenzie jalan-jalan. Maksudnya, kalau sudah bosan main di rumah, Kenzie bisa saya ajak berkeliling sekitar rumah melihat banyak hal. Kenzie bisa lebih banyak mengeksplore hal baru. Beda kalau di Semarang, Kenzie cuma bisa saya ajak keliling komplek yang gitu-gitu saja. Tahu sendirilah di kota, udaranya panas dah gitu nggak banyak hal menarik untuk dilihat kecuali hal-hal “modern”. Kenzie biasanya saya ajak ke halaman belakang rumah. Lihat ikan di kolam belakang rumah, kebun, berbagai jenis pohon dsb. Kenapa nggak ke halaman depan? Karena jalan depan rumah cukup ramai dengan kendaraan yang lalu lalang. Apalagi pagar depan rumah bentuknya yang tanpa pintu buka tutup. Takutnya lagi lengah dan Kenzie lari ke jalan. Pokoknya lebih banyak hal yang bisa saya kasih lihat ke Kenzie dibandingkan kalau di rumah Semarang.
  • Udaranya masih segar dan sejuk. Kalau pagi hari, kami masih bisa melihat embun dan kabut pagi, buat kami itu adalah hal yang istimewa. Apalagi kalau lihat embun dan kabut pagi diantara sawah atau rimbunnya pepohonan, wah..dijamin deh rasanya jauh beda dibandingkan sama di kota. Di pagi hari saat di desa kadang kami mengajak Kenzie jalan-jalan lihat sawah, main di sungai atau lihat kereta lewat. Menikmati udara pagi sambil momong bocah. Kalau di kota kayaknya nggak akan mungkin bisa melakukannya hehehe…Oh ya, air sungai di desa masih segar dan tentunya dingin, termasuk air di rumah. Untuk pengairan rumah tangganya sendiri, mereka mengambilnya dari sumber mata air yang disalurkan ke rumah penduduk. Jadi wajar saja kalau airnya dingin. Kalau mandi, kecuali di hari raya kami baru mandi menjelang siang, itu saja airnya masih dingin. Jadi kalau mandi kadang pakai air hangat.
  • Banyak teman baru. Di desa, lingkungan pergaulannya lebih hmm…sociable kali ya istilahnya. Jadi rasa sosialnya lebih tinggi gitu… Beda sama di kota yang lingkungannya tertutup yang bahkan kadang sesama tetangga sebelah ada yang nggak kenal. Hal ini berbeda banget sama kehidupan di desa. Saking akrabnya, kalau ada tetangga yang punya hajatan, tanpa dikasih undangan pasti mereka datang. Nah, di desa juga banyak anak kecilnya. Mereka sering main bareng. Dan Kenzie biasanya kalau sama anak kecil dia cepat akrab meski baru bertemu. Beda kalau ketemu orang dewasa yang seringnya malah nangis. Bahkan kemarin, pas ketemu sama saudara-saudaranya yang masih anak-anak, Kenzie langsung akrab dan mau main bareng.

Nah, itu tadi beberapa alasan kenapa Kenzie bisa betah di desa. Sebenarnya nggak cuma Kenzie saja sih, saya juga betah, apalagi itu adalah desa tempat saya tumbuh besar. Tapi sayangnya kami nggak bisa lama-lama juga, karena kami juga punya kehidupan “nyata” di Semarang. Jadi bisa dibilang, pulang mudik ke desa bagi saya adalah semacam liburan tersendiri yang istimewa. Dan liburan lebaran kemarin jujur sukses bikin saya baper. Terutama pas malam lebaran. Kenapa? Karena saya teringat beberapa tahun silam, saat orangtua saya masih ada. Banyak memori yang kembali hadir di ingatan. Seandainya saja beliau semua masih hidup, pasti bakalan senang banget bisa lihat cucu-cucunya. Apalagi cucunya sudah komplit ada yang laki dan perempuan. Saya membayangkan kami bisa berlebaran bersama dengan kedua orangtua kami. Tapi apalah daya, takdir berkata lain. Hmmm…kenapa malah jadi mau mewek lagi sih…hiks…hiks…

Oh ya, liburan kali menjadi salah satu liburan paling berkesan bagi saya adalah karena akhirnya setelah menikah bisa merayakan lebaran di desa dengan suasana yang bisa dibilang happy. Soalnya saat lebaran pertama setelah menikah, meskipun saya dan suami berlebaran di desa, tapi saat itu kami dalam suasana berkabung. Saat itu jadi lebaran kami tanpa bapak dan ibu saya.  Lebaran kali ini kami akhirnya juga bisa berkumpul bersama dengan semua saudara inti dari keluarga bapak. Jarang-jarang bisa ngumpul bareng dengan formasi komplit. Karena biasanya ada salah satu yang nggak pulang mudik.  So, kalau libur lebaranmu sendiri gimana? Adakah sesuatu yang istimewa? 🙂

NB: Salah satu hal yang bikin saya cukup takjub selama di desa adalah, saya bisa lihat berbagai macam kupu-kupu dengan berbagai corak. Ukurannya juga besar. Soalnya selama di Semarang ngajakin Kenzie jalan-jalan, saya hanya menemukan kupu-kupu kecil yang berwarna kuning. Sepertinya saya belum pernah menemukan jenis kupu-kupu yang besar apalagi dengan berbagai corak warna. Jadi , bagi saya melihat kupu-kupu besar dengan berbagai corak warna yang berbeda merupakan keseruan tersendiri. Dan sangat bersyukur sekali masih bisa melihatnya di desa saya.

 

 

Advertisements

6 thoughts on “Liburan Lebaran di Desa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s