Jejak Rasa
Galau Tengah Malam

Membaca tulisan seorang kawan di lapak sebelah membuatku teringat ke suatu suasana di dalam sebuah rumah di sebuah kota bernama Purwokerto. Aku kangen dengan para penghuni di dalam rumah itu, bapak, ibu dan adekku satu-satunya. Kira-kira kalian sedang apa ya sekarang? Berandai-andai diriku ada didalam rumah itu. Rumah yang kecil, sederhana dan apa adanya, namun sangat berarti untukku.
Tapi kini, kenyataannya ragaku tidaklah disana tapi berada di kota ini. Kota yang lima tahun terakhir sudah menjadi kota keduaku. Kota yang kala siang sangat susah untuk berdamai dengan cuacanya yang panas. Kota yang perlahan-lahan juga sudah menggerogoti hatiku. Dan kini, mau tak mau , suka tidak suka, rela tidak rela, harus aku akui kalau kota yang agak sering kena banjir kalau ujan deras ini telah merebut sebagian hatiku dan membawanya bersamanya.
Jika Kamu adalah Musim
Jika kamu ada musim, maka kamu adalah musim terindah yang pernah hadir di hidupku. Layaknya musim, kamu memberikan warna dalam hidupku. Menjadikan hari-hariku lebih berirama dengan nada-nada yang membuatku tak pernah bosan.
Jika kamu adalah musim, maka kamu adalah musim semiku. Kamu yang membuat hatiku bersemi ketika awal kita jumpa. Kamu yang membuat kupu-kupu itu serasa menggelitik berterbangan di
Selamat Jalan, Bapak
‘’Bapak meninggal siang ini, mohon do’anya…’’
Begitulah isi SMSmu siang tadi. Kabar itu bagaikan petir di siang bolong. Aku memang sedang menunggu kabar darimu hari itu, berharap setiap kali ponselku berdering itu adalah dari kamu. Berharap setiap kali ada SMS itu dari kamu. Ya, itu memang dari kamu. Tahukah kamu, bagaimana reaksiku melihat namamu tertera di layar ponselku? seperti anak kecil yang baru saja mendapat hadiah. Namun, bukan itu isi pesan yang kuharapkan. Dengan tangan gemetar, aku pun membalas pesanmu.
Ah, Bapak. Masih teringat ketika pertama kali aku bertemu dengan beliau. Ya, pertemuan dua tahun lalu yang menjadi pertemuan pertama dan terakhirku dengan beliau.
Ah, Bapak. Sosok tua renta yang menyapaku dengan hangat ketika aku menemuimu di rumah sakit kala itu. Bapak yang dengan guratan-guratan halus di wajahnya masih terlihat menawan di usianya yang senja. Ya, Bapak masih memiliki pesonanya dan saat itu akupun tahu darimana garis-garis pesonamu itu kau dapatkan.