Celoteh

6 Tips Belajar Sistem Kebut Semalam

Bagi yang masih sekolah atau kuliah? Kira-kira kalau besok ujian dan kalian belum belajar, padahal bahan banyak banget! Atau banyak tugas, besok harus dikumpulin! Nah, apa yang bakal kalian lakuin? Hmm…kayaknya bakalan banyak yang jawab begadang buat belajar atau SKS (Sistem Kebut Semalam) hihihi…. Tos dulu ah kalau begitu hehehe… Sama kayak saya nih, dulu jaman masih sekolah/kuliah sering banget pakai jurus ini kalau sudah kepepet. Nah, meskipun sekarang ggak (belum) sekolah lagi, tapi bolehkan berbagi tips biar sukses SKS.

Ada beberapa kiat nih buat kalian yang mau SKS,  antara lain:

  1. Niat. Sudah pasti dong kalau mau mau ngapain aja pakai niat. Termasuk untuk yang satu ini. Sepele sih, tapi sebenernya itu yang bikin tekat kita lebih kuat. Niat itu juga bisa kamu omongin ke orang-orang serumah atau orang terdekat, biar mereka ikut support atau nggak ganggu kamu.
  1. Istirahat Cukup. Dalam sehari kita minimal sebaiknya tidur sekitar enam jam. Nah, usahakan untuk mencukupi kebutuhan tidur minimal itu. Nggak harus efektif enam jam dalam sekali tidur sih. Jadi, karena malamnya kita kepengen nggak tidur, usahakan untuk tidur siang, sore, atau sebelum kita memulai aktivitas wayangan (nggak tidur sampai pagi). Tapi jangan lupa pasang weker, bisa-bisa kebablasan, batal deh rencana SKS.
  1. Posisi Nyaman. Carilah tempat senyaman mungkin untuk posisi memulai wayangan. Mungkin bisa pakai alas yang empuk sebagai sandaran atau tempat duduk. Tapi ingat, usahakan jangan memposisikan diri sambil tidur ya.
  1. Makanan dan Minuman Pendukung. Yang ini sih sesuai selera. Kalau untuk makanan usahakan jangan yang ‘berat-berat’, yang nggak mengenyangkan. Karena kalau kenyang biasanya kita kan ngantuk tuh. Terus, kalau minuman bisa milih yang membuat mata tetap terjaga tapi rileks, semisal kopi atau teh. Saran, jangan memilih minuman yang mengandung susu atau cokelat, soalnya kedua minuman itu malah bakal bikin kita lebih cepat ngantuk.
  1. Dengerin Musik. Sebenarnya nggak harus musik sih, pokoknya suara-suara yang nggak ngebuat suasana sepi. Misalnya, suara radio atau televisi juga bisa. Khusus untuk musik, usahakan milih musik-musik yang sesuai sama kamu. Maksudnya yang biasa kamu dengerin. Itu biar kamu tetap fokus ke tugas atau materi ujian, bukannya ke musiknya. Jangan juga milih musik yang terlalu soft, biar otak tetap fresh;
  1. Jeda. Jangan lupa lakukan variasi kegiatan. Bayangin aja kalau kamu bakal melek delapan jam sampai pagi dan cuma mantengin materi ujian atau tugas tanpa variasi kegiatan lain. Dijamin pasti bosen deh! Untuk itulah coba bikin jeda, sekadar istirahat sebentar. Entah itu jalan-jalan dari ruang tamu sampai dapur, cuci muka, meluruskan sendi-sendi tubuh, sms-an, atau buka FB. Tapi jangan kelamaan, setelah refresh balik lagi ke niatan awal.

Kira-kira itu deh persiapan tempur menjadi SKS-er. Namun, yang perlu kalian ingat, ngerjain tugas atau belajar yang paling efektif tentu saja tetap waktu reguler, dari pagi sampai sore hari. Malam itu ya buat istirahat. SKS itu nggak baik loh. Cuma, kalau memang bener-bener kepepet ya selamat mencoba aja. Kalau ada yang mau berbagi tips lain juga boleh loh! Silahkan masukkan di kolom komentar 😀

Event

Serunya Belajar Food Photography

Diantara kalian ada yang hobi membuat kue atau roti? Pastinya sudah akrab dong dengan beberapa nama merk tepung terigu. Dan kalian tentunya juga sudah tahu kan salah satu produsen tepung yang terkenal yaitu PT Sriboga Flour Mill (SFM). Berawal dengan tiga merk tepung terigu unggulannya, yaitu Tali Emas, Beruang Biru, dan  Pita Merah, saat ini Sriboga telah memiiki lebih dari 50 merk tepung terigu yang memenuhi standar nasional dan internasional. Wiih, keren kan?DSC00600

Nah, hari Selasa (31/4) kemarin, saya berkesempatan mengikuti pelatihan food photography yang diadakan di Sriboga Customer Center (SCC). Diantar oleh suami, pukul 09.15 WIB saya akhirnya tiba di SCC. Awalnya saya kira saya telat, karena pukul 09.00 disuruh sudah di tempat acara. Namun ternyata hanya beberapa orang saja yang baru hadir. Setelah registrasi, kami pun menuju ruangan di lt.2 tempat acara akan berlangsung. Sambil ngerumpi ngalor-ngidul dengan teman yang lain, akhirnya setelah sekitar satu jam menunggu acara pun di mulai. Continue reading “Serunya Belajar Food Photography”

Celoteh

Resolusi 2015

Sudah 12 hari berganti dari tahun 2014 menjadi 2015. Artinya si bumi dan penghuninya sudah makin tua tuh…jadi seharusnya kita yang sudah makin tua ini makin jadi manusia yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Nah, biar nggak ngrambyang…*halah* maksudnya biar ada tolak ukur yang pasti, sebagian dari kita mungkin ada yang membuat yang namanya RESOLUSI. Entah itu resolusi baru atau resolusi yang diperbaharui :)) Kalau tentang resolusi, sebenarnya saya nggak terlalu akrab dan nggak terlalu serius berhubungan sama si resolusi. Kenapa? Karena saya sepertinya lebih sering ingkar janji sama si resolusi. Janjiannya kapan, terlaksananya entah kapan hehehe….Jadi, saya bisa dibilang lebih fleksibel aja sih sama si resolusi…*bilang aja malas hahaha…*

So, tahun ini bikin resolusi nggak? Berhubung saya lagi melatih diri saya biar lebih disiplin, saya akhirnya memutuskan untuk bermesraan lagi dengan si resolusi. Semoga saja bisa terlaksana semuanya sebelum tahun berganti.  Dan berikut ini adalah daftar resolusi acak saya untuk sekitar setahun ke depan: Continue reading “Resolusi 2015”

Celoteh

When Studying Abroad Looks Fun

gambar di ambil dr www.buzzfeed.com
gambar di ambil dari http://www.buzzfeed.com/ikea/college-living-expectations-vs-reality

Punya keluarga, teman atau kenalan yang sedang study abroad? Mereka selalu upload dan posting foto-foto selama di negeri orang. Siapa sih yang nggak ngiri? Bukankah terlihat menyenangkan melihat mereka bisa jalan-jalan kesana kemari. Berada di tempat-tempat yang mungkin hanya bisa kita bayangkan bisa menjamahnya. Bertemu dan berkumpul dengan orang-orang baru. dan merasakan berbagai pengalaman baru.  Tapi percayalah, dibalik semua foto-foto tersebut ada stres dan duka yang tersembunyi. Itu menurut pengakuan salah seorang teman yang sedang study abroad di salah satu postingannya di FB.

Yup,menurut  teman saya yang sekarang sedang merantau di negeri Paman Sam tersebut, dibalik semua foto-foto yang (terlihat) menyenangkan tersebut, ada stress yang tak terlihat

“Harus banyak banget baca buku, textbook, ubek-ubek google sana- sini, capek ngomong bahasa Inggris seharian (udah gitu kadang masih nggak ngerti), culture shock, homesick buanget (bahkan termasuk Jakarta yang macetnya ngeselin), ngelakuin apa apa harus sering-sering sendiri, adaptasi adaptasi, kudu makan makanan yang seadanya dan dimasak sendiri (karena pengen ngirit dan sesuai dengan lidah), pun mesti pinter-pinter atur duit berhubung jadi anak kuliahan lagi,” Ujarnya.

See..ternyata nggak semuanya yang terlihat menyenangkan itu menyenangkan, selalu ada negatif dan positifnya. Jujur saja, setelah membaca postingan teman saya tersebut seperti menjadi “penghibur” tersendiri bagi saya pribadi. Saya termasuk salah seorang dari sekian banyak yang punya impian bisa melanjutkan study ke luar negeri. Berharap suatu saat nanti bisa meraih gelar master di salah satu universitas ternama di luar negeri. Setiap kali ada teman saya yang memiliki keberuntungan bisa mendapatkan beasiswa untuk study abroad, saya merasa senang dan bangga sekaligus iri dengan mereka. Senang dan bangga bisa memiliki teman-teman yang sukses dan iri karena belum bisa seperti mereka.

Tidak hanya iri melihat teman-teman saya bisa melanjutkan kuliah di negeri orang, tapi juga iri melihat kesuksesan karir mereka. Ya, mayoritas dari mereka adalah para pekerja dengan posisi cukup mapan di tempat mereka bekerja dan perempuan pula. Jika  membandingkannya dengan diri saya, tentu saja kalah jauh, saya bukanlah apa-apa. Minder? Bohong jika perasaan itu tak pernah mampir dalam hati saya. Setidaknya beberapa tahun lalu saya membayangkan setelah lulus kuliah S1 saya bisa berkarir dan bekerja di perusahaan ternama dengan posisi yang pantas untuk bisa dibanggakan. Namun nyatanya, saya bukanlah orang yang cukup pintar dan pandai untuk lolos tes rekruitmen beberapa perusahaan incaran yang saya ikuti. Sampai akhirnya saya pun menikah dan hingga saat ini status saya bekerja sebagai pengurus rumah tangga.

Namun di sisi lain saya terkadang bersyukur atas semua ini. Ya, saya bersyukur kini saya sudah menikah, saya bersyukur saya tidak pernah di terima di perusahaan incaran. Mengapa? Karena jika saya diterima bekerja dan atau menunda pernikahan saya, hampir bisa dipastikan saya akan lebih menyesal. Saya akan menyesal karena saya mungkin tidak akan pernah bisa menengok dan merawat Bapak sesering yang telah saya lakukan. Jika saya diterima bekerja yang notabene perusahaan-perusahaan incaran saya tersebut berada di luar Purwokerto, saya pasti akan menggunakan alasan jarak dan waktu untuk tidak bisa sering pulang padahal Bapak sering keluar masuk rumah sakit. Dan jika saya menunda pernikahan, maka saya tidak akan pernah merasakan bagaimana rasanya dinikahkan oleh Bapak. Ya, karena awal Juni lalu Bapak akhirnya menyusul Ibu dan meninggalkan kami untuk selama-lamanya.

gambar di ambil dr Pinterest
gambar di ambil dari Pinterest

Bukankah Tuhan tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan hamba-Nya? Mungkin jika sekarang saya dan teman saya yang study abroad bertukar posisi, belum tentu saya mampu bertahan di negeri orang. Jangankan bisa paham materi kuliah di kelas dan ngerjain tugas dengan lancar, buat ngomong  Inggris aja saya masih sangat kacau balau. Ataupun sebaliknya, jika dia berada di posisi saya belum tentu juga ia bisa melewatinya.  Yang saya yakini, semua yang kita alami pada hakekatnya adalah proses untuk menjadikan kita orang yang kuat dan lebih baik dari sebelumnya. Tentu saja dengan cara yang berbeda menyesuaikan kadar kemampuan masing-masing dan itu hanya Tuhan yang tahu. Jika orang lain sudah mencapai mimpinya sedangkan kita belum, bukan berarti kita tidak akan pernah bisa mencapainya. Anggap saja, Tuhan belum memberikan kesempatan itu kepada kita. Tuhan masih menunggu dan melihat seberapa besar perjuangan kita hingga kita di anggapnya layak untuk mendapat kesempatan tersebut.  Percaya deh Tuhan itu Maha Tahu. Dia memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Nggak percaya? Coba kalian rubah sedikit sudut pandang kalian 😉

So, kalian adakah yang masih berkeinginan study abroad? Kalau saya sih masih kepengin, Insyaallah suatu saat nanti bisa study abroad bareng sama suami, aamiin…. 😀