Celoteh

Ditolak Cek Laboratorium Ibu Hamil di Puskesmas

Kali ini saya mau cerita tentang pengalaman saya cek lab di Puskesmas. Jujur saja, saya sebelum ini saya sudah lupa kapan terakhir kali pernah ke Puskesmas. Sepertinya sih saat suntik TT ketika akan menikah pada tahun 2013 lalu. Hingga akhirnya akhir Julikemarin saya pun ke Puskesmas.

Jadi, ceritanya saya yang sedang hamil anak ke-3 ini disuruh cek lab oleh dokter kandungan. Pada kehamilan sebelumnya, biasanya saya baru disuruh cek lab pada trisemester ke-3 menjelang minggu-minggu terakhir HPL. Namun kali ini saya disuruh cek lab lebih awal yaitu di semester ke-2. Saya sih nurut aja. Meski sebenarnya sudah disuruh cek lab semenjak kunjungan terakhir pada akhir Mei, saya baru melakukan cek lab pada akhir bulan Juli. Selain beberapa faktor lainnya, faktor utamanya karena masalah biaya.

Yes, saya menunda untuk cek lab karena faktor biaya. Keuangan lagi seret euy untuk biaya daftar ulang sekolah si anak sulung. Berdasarkan cek lab pada kehamilan sebelumnya, paling nggak untuk cek lab bisa menghabiskan dana minimal Rp 300 ribu. Kalau nggak salah itupun hanya untuk pemeriksaan darah rutin, glukosa sewaktu, urine lengkap dan HBsAg. Sedangkan kali ini, dokter juga menambahkan pemeriksaan cek lab untuk TPHA, VDRL dan Anti HIV. Wah,pikir saya pasti lebih banyak lagi biayanya. Karena itulah saya memutuskan untuk menunda cek lab.

Sebelum melakukan cek lab, saya pun mencoba mencari tahu biaya untuk cek lab di klinik. Salah satunya yaitu di Lab Cito. Saya pun menanyakan biaya untuk cek lab TPHA, VDRL dan Anti HIV. Totalnya? Bikin saya terkejut saudara-saudara. Biaya untuk ketiganya berkisar Rp 700 ribu . Jika ditambahkan dengan darah rutin dllnya, kemungkinan membutuhkan biaya sekitar Rp 1 jutaan. Wow sekali bukan?

Berhubung saya nggak rela untuk menghabiskan uang sebanyak itu, saya pun mencoba alternatif lain. Apa itu? Yaitu ke Puskesmas. Soalnya dokternya bilang terserah mau cek lab di lab klinik atau Puskesmas. Sebenarnya saya tahu sih kalau di Puskesmas bisa cek lab ibu hamil, cuma nggak tahu selengkap apa. Akhirnya saya mencari informasi biaya cek lab di Puskesmas. Nggak disangka, saya baru tahu kalau ternyata cek lab di Puskesmas cukup lengkap lho. Biaya yang harus kita bayar juga nggak menguras kantong, jadi isi dompet aman deh.

tarif layanan puskesmas

Jadilah, hari Sabtu setelah Idul Adha kemarin saya pun pergi ke Puskesmas. Pagi sekitar jam 7 pagi, saya minta di antar ke Puskesmas Ngaliyan. Setelah mendaftar, saya mendapat antrian untuk ke poli KIA. Lalu, sekitar satu jam kemudian, saya pun mendapat giliran masuk. Namun sayangnya saya ditolak karena lupa membawa buku KIA.

Menurut bidan, buku KIA harus dibawa saat kemanapun periksa. Karena itu adalah buku penghubung di antara tenaga kesehatan yang memeriksa ibu hamil dan anak. Entah itu dokter dengan bidan atau sebaliknya. Nggak boleh ketinggalan setiap kali periksa kehamilan. Maka dari itu oleh bidannya, saya disuruh pulang untuk mengambil buku KIA atau kembali hari Selasa minggu depan. Saya pun pasrah dan keluar ruangan.

Pelajaran banget nih buat para ibu hamil. Kalau kalian mau periksa atau kontrol kehamilan di manapun itu, selalu bawalah buku KIA. Dan selama hamil sampai nanti nanti anak sudah lahir, gunakanlah satu buku KIA. Jadi nggak boleh ya, gonta-ganti buku. Maka dari itu, simpan dan jaga baik-baik buku KIA kalian. Oke!

Lanjut ke cerita, karena saya malas buat bolak balik datang ke Puskesmas lagi, setelah berpikir sejenak akhirnya saya memutuskan untuk menelpon suami untuk mengirimkan buku KIA dengan gojek. Alhamdulilah, ada diskon Rp 20 ribu untuk gosend, jadi lebih murah deh. Dengan estimasi waktu tiba sekitar pukul 9.30 WIB, masih ada waktu 30 menit sebelum jam layanan Puskesmas tutup pada pukul 10.00 WIB. Benar saja, pukul 9.30 WIB, buku KIA saya sampai. Saya pun langsung bergegas menuju ruang KIA.

Sayangnya lagi, menurut bidannya sebenarnya labnya sudah tutup. Karena mereka mengira saya sudah pulang dan nggak ngambil buku jadi nggak bilang petugas lab untuk menunggu. Akhirnya mereka tetap mau membantu supaya saya bisa tetap cek lab. Ironisnya, begitu tahu alamat KTP saya, ternyata saya salah Puskesmas pemirsa. Berdasarkan alamat KTP, saya harusnya periksa ke Puskesmas Purwoyoso, bukan di Puskesmas Ngaliyan. Pasalnya, wilayah layanan Puskesmas Ngaliyan, mencakup 6 kelurahan dan kelurahan Purwoyoso bukan termasuk di antaranya. Saya yang nggak tahu dan baru paham, tentu saja kaget dong. Sudah nunggu lama, akhirnya di tolak juga nggak bisa cek lab.

Jadi, ternyata meskipun periksa menggunakan umum, warga yang mau periksa harus sesuai dengan cakupan wilayah masing-masing Puskesmas. Kecuali jika mendapat rujukan. Selain itu, jika berbeda maka akan ditolak. Kenapa? Pada intinya sih, ini bertujuan supaya alur data yang mereka miliki nggak amburadul. Jadi harus sesuai alurnya. Adapun jika bukan warga asli daerah tersebut, sepertinya harus menggunakan surat keterangan domisili.

puskesmas ngaliyan
playground, ruang laktasi dan ruang laboratorium di Puskesmas Ngaliyan

So, buat kamu yang berencana periksa ke Puskesmas, cari tahu dulu tempat tinggalmu masuk wilayah Puskesmas mana. Kalau bukan penduduk asli, tanyakan dulu ke petugas, bisakah kamu periksa di sana. Darimana nanti malah zonk kayak saya. Maklum, bisa dibilang saya nggak pernah periksa/berobat ke Puskesmas apalagi faskes 1 BPJS saya di klinik Pratama.

Akhirnya, oleh bidan saya pun disuruh untuk periksa kehamilan saja. Ya sudah saya nurut saja. Buku KIA saya yang terbilang diisi seadanya, kemudian dibantu dilengkapi oleh bidan. Saya pun jadi tahu kalau berdasarkan riwayat, kehamilan saya kali ini bisa dikategorikan risiko tinggi dan bisa dirujuk ke RS. Bahkan oleh beliau, buku saya diberi cap sebagai tanda kehamilan berisiko.

Setelah selesai pemeriksaan, saya pun langsung keluar ruangan KIA dan nggak lama kemudian baru sadar kalau saya nggak disuruh bayar alias gratis. Entahlah, apa memang gratis untuk pemeriksaan kehamilannya atau bidannya lupa. Tapi sepertinya sih gratis.

Hari Sabtu itu pun saya pulang tanpa cek lab. Karena kalau mau ke Puskesmas Purwoyoso, waktunya sudah mepet dan saya pun sudah capek. Lebih baik pulang dan kembali ke Puskesmas Purwoyoso hari Senin saja. Walau pulang tanpa cek lab, saya merasa nggak rugi karena total uang yang saya keluarkan hari itu hanya Rp 32 ribu saja untuk biaya Gosend. Anggap saja itu biaya pemeriksaan untuk bidan. Belum lagi saya juga dapat wawasan baru.

Lalu bagaimana selanjutnya? Apakah saya jadi cek lab di Puskesmas? Nantikan di postingan selanjutnya ya!

One thought on “Ditolak Cek Laboratorium Ibu Hamil di Puskesmas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s