Celoteh

Bekerja setelah Menikah?

Hari ini, entah kenapa lagi pengin nulis lagi buat ngisi blog. Tadi iseng-iseng aja jalan-jalan ke blog tetangga. Gara-gara baca tulisan dia, aku jadi keingat beberapa hari lalu, tepatnya Selasa kemarin, aku ikut FGD untuk penelitian S3 salah satu dosen di salah satu universitas di Semarang. Sebenarnya tema disertasinya dia tentang analisi wacana, cuma kemarin agak menyinggung tentang gender. Salah satu pertanyaan kemarin adalah pendapat tentang topik artikel terkait pernikahan. Gara-gara pertanyaan itu, mau nggak mau jawaban kami para responden secara langsung maupun tidak langsung pun akhirnya menyinggung ranah gender terutama tentang posisi perempuan ketika setelah menikah.

Nah, ngomongin masalah pernikahan memang menarik. Nggak hanya tentang stereotipe kelayakan umur bagi seorang perempuan untuk menikah, tapi juga terutama tentang peran perempuan setelah menikah. Buatku sendiri, sebuah pernikahan adalah sebuah pilihan bagi setiap individu. So, jika kamu memilih untuk tidak menikah pun, itu adalah hakmu. Pernikahan buatku adalah sebuah relasi, sebuah partnership. Dan aku akan memilih orang yang memiliki visi misi yang sama denganku untuk kujadikan partner hidupku. Jadi, buatku  pilihan kapan waktu yang tepat atau pas untuk menikah bukanlah berdasarkan usia, tapi ketika aku sudah merasa menemukan pasangan yang mau berpartner denganku, meskipun mungkin itu ada pada saat usia biologisku sebagai seorang perempuan sudah melewati masa terbaik untuk bereproduksi dan jika melewatinya maka akan membuatku kecil kemungkinan untuk memiliki penerus. Bukan aku nggak peduli, tapi buatku seperti kubilang tadi, pernikahan adalah partnership dimana aku akan menikah dengan orang yang memiliki visi misi yang sama tentang pernikahan dan buatku mendapatkan keturunan bukanlah hal terpenting dalam pernikahan. Untukku anak adalah pelengkap kebahagiaan dan tanpa anak bukan berarti aku tidak akan bahagia.

Balik lagi, karena pernikahan buatku adalah sebuah partnership, maka dalam pernikahan itupun setiap pasangan harusnya memiliki hak yang sama atau setidaknya seimbang. Ngomongin peran perempuan dalam pernikahan, seperti yang kita ketahui Indonesia masih kental dengan budaya patriarki terutama di Jawa, tugas perempuan yang menikah pun sepertinya hanya berkutat dalam urusan wilayah ‘belakang’, urusan domestik yang seringkali dianggap remeh. Perempuan pun dilarang bekerja ketika sudah menikah. Memangnya kenapa? Apakah ada yang salah jika perempuan bekerja? Apakah karena bekerja dianggap sebagai tugas lelaki saja? Perempuan selalu dikonstruksikan dengan orang yang lembut, penuh kasih sayang, sehingga ketika marah pun dia dianggap tidak normal. Apakah perempuan tidak boleh marah? Apakah perempuan dianggap sebagai malaikat yang penuh kesabaran? Lalu, apakah pria yang marah itu normal? Apakah itu berarti pria tak boleh menjadi orang lembut dan berkasih sayang? Jika tugas mengurus dan memperhatikan anak adalah tugas ibu, apakah itu menandakan pria lepas tangan untuk tidak mengurus dan memperhatikan anaknya? Dan ketika si anak menjadi pribadi yang tak “di inginkan” maka hanya ibu yang bertanggung jawab? Jika ketika menikah, tugas sang suami hanya bekerja dan istri bertugas mengurus rumah, kenapa tidak sewa saja pembantu? Apakah seorang perempuan menikah hanya untuk dijadikan pembantu? Tentu tidak bukan? Jika iya, maka bukankah pernikahan berarti hanya menjadi transaksi jual-beli?

Aku adalah seorang perempuan yang akan memilih jalan hidupku sendiri, memilih mana yang menurutku terbaik bagi diriku dengan segala konsekuensi dan risiko atas pilihanku. Ketika aku menikah nanti, aku akan tetap bekerja jika aku ingin tetap bekerja dan berhenti jika aku ingin berhenti. Karena aku dan suamiku adalah partner, maka ketika mengambil keputusan,  kami akan berkompromi dan bernegosiasi mengambil keputusan terbaik menurut kami berdua, tidak hanya dari salah satu pihak saja. So, tidak akan ada pemaksaan. Jika aku menikah, bekerja, dan memiliki anak, maka tugas mengurus anak pun ingin aku berdua, karena aku bukanlah manusia sempurna, yang bisa mengurus urusan domestik dengan sempurna sekaligus bisa bekerja dengan sempurna. Setiap keputusan ada konsekuensin dan risikonya dan jika tetap bekerja setelah menikah dan memiliki anak akan mengurangi waktuku untuk mengurus anak maka tugas suamilah yang menutupi kekurangan itu.

Jadi. kalau anda adalah pria yang memperbolehkan istrinya berkarir dengan syarat pekerjaan domestik yang tetap selesai dengan sempurna. Maaf, berarti anda bukanlah calon partner hidup idaman saya. Karena saya bukanlah manusia tanpa cacat. Sekali lagi, saya menikah bukan untuk menjadi budak, tapi saya menikah untuk berpartner. Saya menikah untuk dipimpin bukan untuk diperintah.

Anda bilang saya feminis? Memangnya kenapa kalau saya feminis?  

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s